Apa Saja yang Perlu Ada dalam Kontrak Kerja Sama Influencer? Ini 10 Poin Pentingnya
Dalam influencer marketing, kerja sama yang baik membutuhkan kesepakatan yang jelas sejak awal. Bukan hanya soal berapa banyak konten yang harus dibuat, tetapi juga mengenai jadwal publikasi, pembayaran, proses revisi, hingga bagaimana konten influencer boleh digunakan oleh brand. Poin-poin tersebut umumnya perlu dituangkan secara tertulis agar kedua pihak memahami tanggung jawab dan hak masing-masing.
Kontrak yang disusun dengan jelas juga dapat membantu brand dan influencer menghindari perbedaan pemahaman selama campaign berlangsung. Karena itu, sebelum kerja sama dimulai, penting untuk memastikan setiap ketentuan yang berkaitan dengan campaign sudah disepakati oleh kedua pihak. Lalu, apa saja yang perlu ada dalam kontrak kerja sama influencer? Berikut 10 poin penting yang perlu diperhatikan. Simak!
10 Poin yang Harus Ada dalam Kontrak Kerjasama Influencer
Kontrak kerja sama menjadi salah satu dokumen penting untuk memperjelas kesepakatan tersebut. Di dalamnya, brand dan influencer dapat mengatur hal-hal seperti deliverables, pembayaran, penggunaan konten, eksklusivitas, hingga ketentuan pembatalan. Kontrak yang jelas juga dapat membantu mengurangi risiko kesalahpahaman selama campaign berlangsung.
Lalu, apa saja yang perlu ada dalam kontrak kerja sama influencer? Berikut 10 poin penting yang sebaiknya diperhatikan oleh brand maupun influencer.

1. Identitas Brand dan Influencer
Hal pertama yang perlu dicantumkan adalah identitas pihak-pihak yang terlibat dalam kerja sama.
Informasi ini dapat mencakup:
Nama brand atau perusahaan
Nama lengkap influencer
Nama agensi atau perwakilan jika ada
Alamat atau informasi kontak
Jabatan pihak yang mewakili brand jika diperlukan
Bagian ini terlihat sederhana, tetapi penting untuk memastikan bahwa kontrak dibuat dan disetujui oleh pihak yang tepat.
2. Ruang Lingkup Kerja Sama
Kontrak perlu menjelaskan secara jelas apa yang harus dilakukan influencer selama campaign.
Misalnya, kerja sama mencakup:
1 video TikTok
1 Instagram Reels
3 Instagram Stories
Product review
Unboxing
Live streaming
Giveaway
Selain jumlah konten, sebaiknya jelaskan juga platform yang digunakan, format konten, durasi video, waktu publikasi, serta ketentuan lain yang berkaitan dengan deliverables.
Rincian seperti ini membantu kedua pihak memahami pekerjaan yang harus diselesaikan dan mengurangi kemungkinan perbedaan ekspektasi.
3. Timeline dan Jadwal Publikasi
Kontrak juga perlu mencantumkan timeline campaign secara jelas.
Misalnya:
Tanggal produk dikirim
Deadline draft konten
Jadwal review dari brand
Batas waktu revisi
Tanggal konten dipublikasikan
Periode campaign
Timeline penting karena campaign influencer biasanya melibatkan beberapa tahapan. Jika salah satu tahapan terlambat, jadwal publikasi juga dapat ikut berubah.
Dengan adanya jadwal tertulis, brand dan influencer dapat mengetahui kapan masing-masing pihak harus menyelesaikan kewajibannya.
4. Fee dan Ketentuan Pembayaran
Besaran fee dan cara pembayarannya juga harus ditulis dengan jelas dalam kontrak.
Beberapa hal yang dapat dicantumkan antara lain:
Total fee
Jadwal pembayaran
Metode pembayaran
Uang muka jika ada
Pembayaran setelah konten dipublikasikan
Pajak atau biaya lain yang berlaku
Misalnya, kedua pihak menyepakati pembayaran 50% di awal dan 50% setelah seluruh deliverables selesai. Ketentuan tersebut sebaiknya tertulis agar tidak menimbulkan perbedaan pemahaman.
Struktur pembayaran memang dapat berbeda berdasarkan kesepakatan brand dan influencer, sehingga detailnya perlu disesuaikan dengan campaign yang dijalankan.
5. Ketentuan Brief, Revisi, dan Approval Konten
Brand biasanya memiliki pesan utama atau campaign brief yang perlu disampaikan melalui konten influencer. Karena itu, kontrak sebaiknya menjelaskan bagaimana proses pembuatan, review, dan revisi konten dilakukan.
Contohnya:
Brand memberikan brief kepada influencer.
Influencer mengirimkan draft sebelum dipublikasikan.
Brand memiliki maksimal dua kali kesempatan revisi.
Konten dipublikasikan setelah mendapatkan approval.
Hal ini membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan brand dan kreativitas influencer.
Kontrak juga dapat menjelaskan bagian mana yang wajib mengikuti brief dan bagian mana yang tetap menjadi ruang kreatif influencer.
6. Hak Penggunaan dan Kepemilikan Konten
Ini merupakan salah satu bagian yang sering menjadi perhatian dalam kerja sama influencer.
Brand dan influencer perlu menyepakati siapa yang memiliki konten dan bagaimana konten tersebut boleh digunakan.
Misalnya, apakah brand hanya boleh:
Repost konten di media sosial?
Menampilkan konten di website?
Menggunakan konten untuk iklan berbayar?
Menggunakan konten di marketplace?
Mengedit atau memotong konten?
Menggunakan foto atau video selama 3 bulan atau 1 tahun?
Hak penggunaan sebaiknya ditentukan sejak awal karena penggunaan konten untuk paid advertising atau kebutuhan marketing lainnya dapat memiliki ketentuan dan kompensasi yang berbeda.
7. Exclusivity atau Larangan Bekerja Sama dengan Kompetitor
Brand tertentu mungkin tidak ingin influencer langsung mempromosikan produk kompetitor selama periode campaign.
Jika demikian, ketentuan exclusivity perlu ditulis secara spesifik dalam kontrak.
Misalnya, influencer tidak diperbolehkan melakukan kerja sama dengan brand kompetitor selama 30 hari setelah konten dipublikasikan.
Sebaiknya jangan hanya menuliskan "tidak boleh bekerja sama dengan kompetitor". Kontrak perlu menjelaskan siapa yang dianggap sebagai kompetitor dan berapa lama periode eksklusivitas berlaku.
8. Disclosure dan Ketentuan Promosi
Jika influencer mendapatkan pembayaran, produk gratis, komisi, atau bentuk keuntungan lainnya dari brand, hubungan tersebut dapat perlu diungkapkan kepada audiens sesuai aturan yang berlaku di wilayah dan platform terkait.
Sebagai contoh, panduan FTC menyebut bahwa hubungan material antara influencer dan brand, termasuk pembayaran atau pemberian produk gratis, perlu diungkapkan secara jelas dan mudah dilihat oleh audiens dalam konteks yang relevan.
Karena itu, kontrak dapat menjelaskan:
Disclosure yang harus digunakan
Hashtag yang diperlukan
Cara menyampaikan hubungan kerja sama
Ketentuan klaim produk
Pernyataan yang tidak boleh dibuat
Poin ini penting agar konten promosi tetap transparan dan tidak memberikan informasi yang menyesatkan.
Baca Juga: 7 Strategi Iklan Berbayar di Media Sosial yang Efektif untuk Bisnis
9. KPI dan Laporan Performa
Jika campaign memiliki target tertentu, kontrak dapat mencantumkan KPI atau indikator performa yang akan digunakan untuk mengevaluasi campaign.
Contohnya:
Reach
Impressions
Views
Engagement
Clicks
Conversion
Penggunaan kode promo
Namun, KPI perlu disesuaikan dengan tujuan campaign. Campaign awareness, misalnya, dapat berfokus pada reach dan impressions, sementara campaign yang bertujuan mendorong penjualan dapat lebih memperhatikan clicks, conversions, atau penggunaan promo code.
Brand juga dapat menentukan apakah influencer perlu memberikan screenshot atau laporan performa setelah konten dipublikasikan.
10. Pembatalan, Pelanggaran, dan Penyelesaian Sengketa
Kontrak sebaiknya juga menjelaskan apa yang terjadi apabila salah satu pihak tidak dapat memenuhi kesepakatan.
Misalnya:
Influencer tidak mempublikasikan konten sesuai jadwal.
Brand terlambat melakukan pembayaran.
Konten melanggar brief atau ketentuan yang disepakati.
Campaign dibatalkan sebelum selesai.
Salah satu pihak ingin mengakhiri kerja sama.
Kontrak dapat mengatur konsekuensi, prosedur pembatalan, serta cara penyelesaian masalah atau sengketa.
Dengan adanya ketentuan ini, kedua pihak memiliki acuan yang jelas apabila terjadi masalah selama kerja sama.
Baca Juga: 10 Ide Carousel Instagram yang Bisa Menarik Perhatian Audiens
Kelola Campaign Influencer Lebih Terstruktur Bersama IAM.ID
Selain memiliki kontrak yang jelas, pengelolaan campaign juga perlu dilakukan secara terorganisir. IAM.ID menyediakan Campaign Management System yang membantu brand membuat campaign, memilih influencer, menjalankan campaign, serta memantau hasilnya dalam satu platform.
IAM.ID juga menyediakan fitur AI Influencer Matchmaking untuk membantu menemukan influencer berdasarkan persona brand dan kebutuhan campaign. Dengan pengelolaan yang lebih terstruktur, brand dapat lebih mudah memastikan kerja sama dengan influencer berjalan sesuai brief dan tujuan yang telah disepakati.



