10 Kesalahan Saat Menghubungi Influencer yang Harus Dihindari
Menghubungi influencer mungkin terlihat sederhana, cukup mengirim DM atau email berisi ajakan kerja sama. Namun, pada praktiknya, banyak brand yang justru tidak mendapatkan respons karena melakukan kesalahan dalam proses outreach.
Mulai dari pesan yang terlalu generik, kurangnya informasi mengenai campaign, hingga tidak melakukan riset terhadap influencer yang dituju, berbagai kesalahan tersebut dapat mengurangi peluang terjadinya kolaborasi yang sukses.
Padahal, influencer sering menerima banyak tawaran kerja sama setiap harinya. Agar pesan Anda tidak tenggelam di antara ratusan DM atau email lainnya, diperlukan pendekatan yang profesional, personal, dan relevan dengan profil influencer.
Komunikasi yang baik sejak awal juga dapat membantu membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Lalu, apa saja kesalahan yang paling sering dilakukan brand saat menghubungi influencer, dan bagaimana cara menghindarinya? Simak pembahasannya berikut ini agar proses outreach Anda lebih efektif dan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan respons positif.
10 Kesalahan saat Menghubungi Influencer
Menjalin kerja sama dengan influencer dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan brand awareness, engagement, hingga penjualan. Namun, keberhasilan sebuah kolaborasi tidak hanya ditentukan oleh pemilihan influencer yang tepat, tetapi juga cara brand melakukan pendekatan sejak awal.
Sayangnya, masih banyak brand yang melakukan kesalahan saat menghubungi influencer. Akibatnya, pesan tidak mendapat balasan, proses negosiasi berjalan alot, atau bahkan influencer menolak tawaran kerja sama. Agar hal tersebut tidak terjadi, berikut 10 kesalahan yang sebaiknya Anda hindari.

1. Tidak Melakukan Riset Terlebih Dahulu
Kesalahan paling umum adalah menghubungi influencer tanpa mengetahui siapa mereka dan seperti apa konten yang mereka buat.
Misalnya, brand skincare mengajak influencer gaming untuk mempromosikan produk kecantikan. Meskipun influencer tersebut memiliki banyak pengikut, audiensnya belum tentu sesuai dengan target pasar brand.
Sebelum menghubungi influencer, luangkan waktu untuk mempelajari:
Niche atau topik konten
Demografi audiens
Gaya komunikasi
Jenis kolaborasi yang pernah dilakukan
Tingkat engagement
Riset sederhana ini dapat meningkatkan peluang kerja sama yang lebih relevan.
2. Mengirim Pesan yang Terlalu Generik
Banyak brand menggunakan template yang sama untuk semua influencer, misalnya:
"Halo Kak, kami ingin mengajak kerja sama. Jika tertarik, silakan balas ya."
Pesan seperti ini terkesan kurang personal dan menunjukkan bahwa brand tidak benar-benar mengenal influencer tersebut.
Sebaiknya, personalisasikan pesan dengan menyebutkan alasan mengapa Anda memilih influencer tersebut. Misalnya, Anda menyukai gaya kontennya atau merasa audiensnya sesuai dengan target campaign.
Pendekatan yang lebih personal biasanya akan memberikan kesan profesional.
3. Tidak Menjelaskan Tujuan Campaign
Influencer perlu memahami tujuan kerja sama sebelum memutuskan untuk menerima tawaran.
Hindari mengirim pesan yang terlalu singkat tanpa informasi penting.
Setidaknya, jelaskan:
Nama brand
Produk atau layanan
Tujuan campaign
Platform yang diinginkan
Gambaran bentuk kolaborasi
Informasi yang jelas akan membantu influencer memberikan keputusan lebih cepat.
4. Menghubungi Influencer yang Tidak Sesuai Target Audiens
Jumlah followers bukan satu-satunya indikator keberhasilan campaign.
Influencer dengan 30.000 pengikut yang sesuai target pasar sering kali memberikan hasil lebih baik dibanding influencer dengan ratusan ribu followers tetapi audiensnya tidak relevan.
Karena itu, pastikan influencer memiliki audiens yang sesuai dengan produk atau layanan yang Anda tawarkan.
Baca Juga: 15 KPI Social Media Marketing yang Wajib Dipantau oleh Marketer
5. Tidak Transparan Mengenai Budget atau Bentuk Kerja Sama
Sebagian brand hanya mengatakan ingin bekerja sama tanpa menjelaskan apakah kolaborasi tersebut bersifat berbayar, barter produk, atau bentuk kerja sama lainnya.
Kurangnya transparansi dapat membuat proses komunikasi menjadi lebih panjang.
Jika memungkinkan, sampaikan sejak awal mengenai:
Bentuk kerja sama
Budget yang tersedia
Deliverables yang diharapkan
Timeline campaign
Hal ini akan mempermudah kedua belah pihak mencapai kesepakatan.
6. Memberikan Brief yang Terlalu Rumit
Brief memang penting, tetapi jangan sampai terlalu panjang atau membatasi kreativitas influencer.
Influencer lebih memahami karakter audiens mereka sendiri. Berikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan pesan dengan gaya yang tetap autentik.
Brief yang baik biasanya berisi:
Objective campaign
Pesan utama
Hal yang wajib disampaikan
Hal yang perlu dihindari
Deadline
Dengan begitu, konten tetap sesuai kebutuhan brand tanpa menghilangkan ciri khas influencer.
7. Terlalu Fokus pada Jumlah Followers
Followers yang banyak belum tentu menghasilkan campaign yang sukses.
Selain jumlah pengikut, perhatikan juga:
Engagement rate
Kualitas komentar
Konsistensi konten
Relevansi audiens
Kredibilitas influencer
Dalam banyak kasus, micro influencer justru memiliki engagement yang lebih tinggi karena hubungan mereka dengan audiens lebih dekat.
8. Menghubungi Influencer di Waktu yang Kurang Tepat
Waktu juga memengaruhi peluang pesan Anda dibaca.
Misalnya, menghubungi influencer saat hari libur panjang, tengah malam, atau beberapa hari sebelum campaign dimulai dapat membuat proses kerja sama menjadi terburu-buru.
Idealnya, lakukan outreach beberapa minggu sebelum campaign dimulai agar influencer memiliki waktu untuk mempertimbangkan tawaran dan menyusun jadwal produksi konten.
9. Terlalu Memaksa atau Terlalu Sering Follow Up
Melakukan follow up memang diperbolehkan, tetapi hindari mengirim pesan berulang kali dalam waktu singkat.
Jika influencer belum membalas dalam satu atau dua hari, berikan jeda sebelum menghubungi kembali secara sopan.
Pendekatan yang terlalu agresif justru dapat memberikan kesan negatif dan mengurangi peluang kolaborasi di masa mendatang.
10. Tidak Membangun Hubungan Jangka Panjang
Banyak brand hanya menghubungi influencer saat membutuhkan promosi, lalu tidak pernah berkomunikasi lagi setelah campaign selesai.
Padahal, hubungan yang baik dapat membuka peluang kolaborasi berikutnya dengan proses yang lebih mudah.
Setelah campaign selesai, jangan lupa untuk:
Mengucapkan terima kasih.
Memberikan feedback yang positif.
Membagikan hasil campaign jika memungkinkan.
Tetap menjaga komunikasi meskipun belum ada proyek baru.
Hubungan yang terjalin dengan baik akan menciptakan kepercayaan dan meningkatkan peluang kerja sama di masa depan.
Menghubungi influencer bukan sekadar mengirim DM atau email, tetapi merupakan langkah awal untuk membangun kerja sama yang profesional. Dengan melakukan riset, menyampaikan informasi secara jelas, menghargai waktu influencer, serta menjaga komunikasi yang baik, peluang mendapatkan respons positif akan semakin besar.
Baca Juga: 7 Cara Mengevaluasi Performa Akun Social Media Brand Secara Menyeluruh
Permudah Proses Mencari Influencer lewat IAM.ID
Ingat, influencer juga merupakan mitra dalam menjalankan campaign. Semakin baik proses komunikasi sejak awal, semakin mudah pula tercipta kolaborasi yang efektif dan memberikan hasil yang menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Jika Anda ingin mempermudah proses mencari influencer yang relevan sekaligus mengelola campaign secara lebih efisien, Anda dapat menggunakan platform IAM.ID.
Melalui IAM.ID, brand dapat menemukan influencer yang sesuai dengan target audiens, mengelola kolaborasi dalam satu platform, serta menjalankan campaign influencer marketing dengan lebih cepat, terukur, dan efektif. Hubungi kami di sini!



